Ilusi Ruang: Ketika Kita Tak Lagi Memiliki Dunia Sendiri

 










Bagaimana manusia memperlakukan alam sebenarnya adalah cerminan dari bagaimana mereka memperlakukan diri sendiri dan orang lain

Pembangunan memang sedang pesat-pesatnya. Mulai dari properti pribadi, fasilitas umum, ruko, hingga gedung perkantoran; setiap hari selalu ada yang baru. Namun, di balik itu, ada gesekan antara kebutuhan manusia dan regulasi alami semesta yang sering kali dikhianati oleh ego kita sendiri.

Sering kali, aspek fundamental seperti memikirkan aliran air diabaikan begitu saja demi mengejar luas bangunan. Akibatnya, kawasan yang tadinya aman dari banjir berubah menjadi danau dadakan saat musim hujan tiba. Bagaimana manusia memperlakukan alam sebenarnya adalah cerminan dari bagaimana mereka memperlakukan diri sendiri dan orang lain: Sering mengabaikan proses demi hasil akhir yang instan.

Esensi dasar membangun sebuah bangunan adalah sebagai perlindungan dari panas dan hujan. Namun, hari ini, kenyamanan dan estetika telah menjadi primadona yang menggeser nilai humanisme. Kita lupa bahwa manusia sejatinya masih membutuhkan sentuhan lembut dari alam sekitar agar tetap merasa "hidup".

Namun, ada sisi lain di mana kita terikat pada satu dunia tempat kita tidak bisa lagi bersembunyi: Internet dan media sosial.

Pernahkah kalian mencari barang di platform belanja, lalu tiba-tiba barang tersebut "mengejar" kalian saat sedang asyik scrolling di media sosial?

Itu adalah kerja integrasi data yang sangat presisi. Hanya dengan satu ID email, seluruh riwayat pencarian kita menjadi database berharga bagi para pemegang pasar. Saat kita butuh laptop, setiap algoritma media sosial akan merekomendasikan hal yang sama secara berulang. Integrasi ini sebenarnya mengerikan; mereka menganalisis dan mencoba masuk ke bawah alam sadar kita. Barang yang sebenarnya belum atau tidak kita butuhkan, dikemas dengan narasi sedemikian rupa agar terasa mendesak untuk dimiliki saat itu juga. Ditambah lagi dengan kemudahan metode pembayaran, kita bisa bertransaksi tanpa harus bangkit dari rebahan.

Dari sini muncul sebuah pertanyaan besar: Apakah kita benar-benar memiliki dunia kita sendiri?

Posting Komentar

0 Komentar